Catatan di Tahun 2019 Ini Teknologi Masih Menjadi Dominasi

Catatan di Tahun 2019 Ini Teknologi Masih Menjadi Dominasi

Catatan di Tahun 2019 Ini Teknologi Masih Menjadi Dominasi – Tahun 2018 lantas industri telekomunikasi Indonesia mengalami mengalami dinamika yang cukup tinggi dan mengharuskan industrinya menghadapi negative growth sebesar minus 7,3 persen. Salah satunya merupakan imbas dari kebijakan registrasi prabayar yang dilakukan pemerintah bersama operator.

Catatan di Tahun 2019 Ini Teknologi Masih Menjadi Dominasi

Namun demikianlah industri telekomunikasi memperlihatkan tanda-tanda perbaikan pada 2019 yang terhitung merupakan imbas dari registrasi prabayar tersebut yang menyebabkan konsumen base yang dimiliki operator terbilang bersih, bukan sebatas klaim seperti sebelumnya.

Hingga kuartal 3 th. 2019 kinerja emiten sektor telekomunikasi pada kali ini terbilang cukup cukup baik. Mereka masih bisa membukukan pertumbuhan penjualan yang cukup signifikan.

Contohnya saja PT Telkom, BUMN telekomunikasi ini membukukan penghasilan 102,632 atau tumbuh 3.5% dari Rp 99.203 triliun. Pertumbubuan ini berasal dari bisnis sarana knowledge anak perusahaannya yakni Telkomsel yang tumbuh dari Rp 32.126 triliun jadi Rp 41.242 triliun.

XL Axiata terhitung membukukan penghasilan yang meningkat.Jika th. lantas penghasilan XL Axiata hanya Rp16.940, namun di kuartal 3 th. 2019 ini pendapatannya mengalami pertumbuhan 11% jadi Rp18.735 triliun.

Perusahaan telekomunikasi anak bisnis cahaya Mas Grup, Smartfren, terhitung membukukan pertumbuhan penghasilan di kuartal 3 th. 2019 ini. Jika th. lantas penjualannya hanya Rp3,9 triliun, namun di th. 2019 ini, emiten berkode FREN ini berhasil membukukan penghasilan Rp4,9 triliun.

Anak bisnis Ooredoo yang th. lantas terpukul karena kebijakan pemerintah di dalam jalankan registrasi kartu prabayar, th. ini Indosat mulai memperlihatkan perbaikan kinerja penjualannya. Jika th. lantas kinerja penjualan emiten berkode ISAT ini hanya Rp13,175 triliun, di th. 2019 ini penjualan anak bisnis Ooredoo ini udah meraih Rp15,084 triliun.

Kejutan Regulasi

Meski memperlihatkan tanda-tanda perbaikan, kondisi yang dihadapi oleh industri telekomunikasi Indonesia tidak serta merta “melunak”. Riak-riak kecil dan “kejutan-kejutan” kerap mewarnai perjalanan sepanjang th. 2019 ini.

Salah satu yang cukup banyak mengakibatkan perhatian adalah IMEI International Mobile Equipment Identity (IMEI) yang ditandatangani Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), dan kementerian Perdagangan.

Kebijakan tersebut dikeluarkan menjelang masa selesai tugas para menteri di masa kabinet Kerja Jilid II. Keputusan tersebut seperti tendangan penalti di masa injury time, yang sesungguhnya berdampak pada konsumen secara luas.

Padahal Presiden Joko Widodo udah mengingatkan para pembantunya sehingga tidak mengeluarkan kebijakan strategis di masa jelang perubahan kabinet.

Dengan dikeluarkannya aturan tersebut operator selular mendapat tambahan pekerjaan yang mestinya jadi tugas dari Kementerian Perdagangan. Belum kembali operator harus mengeluarkan capex yang sangat besar untuk menjalankan aturan tersebut.

Beban tambahan tersebut tentunya sangat memberatkan mengingat operator masih harus melakukan perbaikan kinerja keuangannya setelah mengalami negative growth di 2018 lalu.

Perang harga

Meski udah tidak jor-joran seperti tahun-tahun sebelumnya, perang hara masih mewarnai kompetisi industri telekomunikasi Indonesia. Hal tersebut bisa keluar dari knowledge yield yang makin turun secara angka year per gigabite.

Bagi operator kondisi ini bakal jadi tidak benar satu perihal yang sangat fundamental. Secara volume sesungguhnya makin meningkat dan pertumbuhan user terhitung makin melambat, namun bersama Yield yang sangat rendah ini bakal jadi kasus di dalam membangun kesegaran sebuah korporasi. Nah ini jadi tantangan bikin operator disaat mereka harus selalu tumbuh

Indonesia jadi negara paling rendah nomer tiga di dunia setelah India dan Bangladesh, yang menawarkan harga paket knowledge murah. Walau bagus bagi pelanggan, namun tidak bagi industri. Karena industri harus bertahan bersama menghasilkan pendapatan.

Kondisi ini sepertinya belum bakal membaik bahkan aturan tentang tarif sarana knowledge belum kunjung dikeluarkan oleh Kominfo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *