Nokia Alami Penurunan Saham Kedua

Nokia Alami Penurunan Saham Kedua

Nokia Alami Penurunan Saham Kedua – Dalam dua bulan paling akhir Nokia Networks, sedang hadapi masa-masa sulit. Vendor jaringan terbesar kedua di dunia itu, diterpa sejumlah isu besar yang dapat berdampak terhadap alami penurunan kinerja perusahaan terhadap th. ini.

Nokia Alami Penurunan Saham Kedua

Perusahaan asal Finlandia itu dibekukan dari dua tender 5G senilai nyaris $ 10 miliar di China, pasar telekomunikasi terbesar di dunia yang mempercepat peluncuran 5G, waktu lebih dari satu besar negara lain mengurangi penyebaran karena pandemi Covid-19.

China Unicom dan China Telecom udah mengumumkan sejumlah pemasok untuk penyebaran IDN Poker Online jaringan 5G berdiri sendiri (stand alone/SA) senilai CNY32,3 miliar ($ 4,56 miliar), sinyal melibatkan Nokia.

Laporan lokal tunjukkan Huawei menerima anggota 55 persen, bersama dengan pesaing domestiknya, ZTE, sebesar 33 persen. Ericsson diserahi lebih kurang 10 % dan pemasok China lainnya, Datang Mobile 2 persen.

Sebelumnya, Nokia yang mengajukan penawaran untuk proyek pengadaan terpusat untuk para operator, berbarengan membangun satu RAN 5G nasional, terhitung tidak masuk di dalam daftar pemasok China Mobile untuk langkah kedua dari penyebaran 5G senilai $ 5,2 miliar.

Saat itu, Huawei memenangkan 57,3 % dari kontrak terakhir China Mobile, disusul ZTE 28,7 persen, Ericsson 11,5 % dan Datang Mobile 2,6 persen.

Di luar kekalahan tender 5G di China, perusahaan menampik mengomentari laporan bahwa mereka menyewa bank investasi untuk menangkis rencana pengambilalihan.

Pernyataan itu secara tidak segera menepis rumor yang beredar bahwa Nokia bakal diakuisisi oleh sejumlah raksasa teknologi. Cisco, Qualcomm dan perusahaan ekuitas swasta yang tidak disebutkan namanya, berada di anggota atas daftar tersebut.

Sebelumnya terhadap awal Maret 2020, Nokia mengumumkan bakal menukar CEO Rajeev Suri yang udah join bersama dengan perusahaan sejak 2014. Suri dinilai gagal menangkap momentum 5G. CEO baru Nokia adalah Pekka Lundmark, 57 tahun.

Saat ini Pekka merupakan CEO Fortum, perusahaan pembangkit listrik milik negara. Keduanya bakal melaksanakan transisi selama enam bulan, bersama dengan bisnis tentang 5G menjadi concern utama. Jika transisi berlangsung mulus, Suri bakal senantiasa menjadi penasihat dewan Nokia hingga akhir 2020.

Nokia terhitung memperingatkan mengenai prospeknya untuk th. ini yang diprediksi tidak lebih baik dibandingkan 2019. Vendor hasil merger bersama dengan Alcatel Lucent itu, dipaksa menyangkal laporan penjualan asset, sekaligus rencana merger/akuisisi di dalam upaya melakukan perbaikan kinerja.

Harus diakui, 2019 bukan th. yang baik untuk Nokia. Perusahaan memutuskan terhadap Oktober th. selanjutnya untuk menunda dividen demi menghemat duwit untuk berinvestasi di 5G dan terhitung memangkas pedoman pendapatannya. Kombinasi itu membawa dampak para pemegang saham bergegas keluar. Alhasil, saham Nokia turun 23% di dalam satu hari.

Kimmo Stenvall, seorang analis dari OP Group, mengatakan, bahwa pasar udah sangat skeptis apakah Rajeev Suri dapat melanjutkan perannya sejak pengurangan pedoman th. lalu.

“Dia belum dapat memberi tambahan dan meningkatkan nilai yang dikehendaki dilakukannya bagi perusahaan, lebih-lebih di Era 5G.” ujar Kimmo.

Sekedar diketahui, bisnis jaringan yang digeluti Nokia adalah hasil akuisisi senilai $ 16,6 miliar dari Alcatel-Lucent yang diselesaikan terhadap bulan November 2016. Itu berlangsung 10 th. sesudah Lucent Technologies join bersama dengan Alcatel, perusahaan asal Perancis. Pada th. yang mirip Nokia merinci rencana untuk membentuk bisnis patungan bersama dengan raksasa Jerman Siemens, yang diresmikan terhadap 2007 dan lantas diambil alih alih oleh Nokia terhadap 2013.

Sayangnya sesudah penggabungan aset sekaligus otak dari empat perusahaan jaringan besar, Nokia tidak tidak secara otomatis menguasai pasar jaringan telekomunikasi dunia. Meski mengungguli Ericsson, pesaing tradisionalnya, waktu ini Nokia masih berada di bawah bayang-bayang market leader, Huawei.

Menurut kajian instansi riset telekomunikasi Dell’Oro Group, China hanya menyumbang 6 % dari total pendapatan Q1-2010 Nokia, alami penurunan 29 % tahun-ke-tahun menjadi € 308 juta.

Secara global, terhadap 2019 Huawei memegang 27,8 % pangsa pasar peralatan telekomunikasi dunia. Disusul Nokia bersama dengan 16 % dan Ericsson 13,6 persen.

Nokia di dalam pernyataan resmi, senantiasa menghargai ketentuan yang diambil alih operator China yang tak pakai jasa mereka membangun jaringan 5G.

“Kami senantiasa menjadi pemain jangka panjang di Tiongkok dan komitmen kita terhadap Cina senantiasa ada. Nokia senantiasa menyita pendekatan yang konservatif dan transparan untuk bisnis kita di Tiongkok. Kami terus mengeksekusi terhadap obyek strategis yang menyadari untuk meningkatkan bauran bisnis kita secara total di negara ini”. Demikian bunyi pernyataan itu.

Meski demikian, kegagalan Nokia menggapai kontrak 5G di China, membawa dampak para analis menghubungkan perihal itu bersama dengan faktor harga. Mereka yakin Nokia tidak dapat menyamai harga yang dikehendaki dari tiga operator selular China. Namun pihak lain menunjuk terhadap dampak politik mengenai bagaimana tender itu dibagi.

Dalam panggilan pendapatan Q3-2019, Suri mengakui ketentuan untuk pakai gate arrays yang dapat diprogram di lapangan ketimbang kastemer silicon, yang tawarkan fleksibilitas yang lebih rendah tapi teknologi SoC yang lebih murah, terhadap produk-produk 5G awalnya terbukti mahal.

Kesepakatan bersama dengan Marvell Technology yang dijalin terhadap bulan Maret untuk mengembangkan chipset khusus untuk product radio 5G, ditujukan untuk mengatasi masalah cost tersebut.

Peter Jarich, kepala GSMA Intelligence, menyangsikan Nokia mempunyai harapan tinggi dari tender jaringan China baru-baru ini.

“Mengingat susah yang dihadapi Huawei dan ZTE di lebih dari satu pasar, adalah wajar untuk menginginkan lebih dari satu bias tambahan di dalam arah mereka dari operator domestik. Itu tidak berarti bahwa kit yang dimiliki Nokia tidak kompetitif, hanya kenyataan,” jelasnya.

Duncan Clark, pendiri dan kepala BDA China, sebuah perusahaan konsultan, sepakat bahwa bersama dengan meningkatnya resistensi terhadap pemakaian infrastruktur Huawei di pasar-pasar layaknya Eropa. Hal itu adalah reaksi spontan yang dapat diprediksi bagi China untuk memilih vendor lokal.

Dia mencatat tersedia kesenjangan besar di dalam penetapan harga pada vendor Barat dan China dan di dalam kemampuan pemerintah masing-masing untuk terlalu mungkin peluncuran yang cepat.

“Tentu, sulit bagi Ericsson, Nokia dan Samsung untuk mencocokkan harga bersama dengan Huawei. Ini terhadap gilirannya menguatkan orang-orang di Eropa dan di area lain yang berupaya mengecualikan vendor China,” ujar Duncan.

Daryl Schoolar, kepala tim Jaringan Cerdas Omdia, menyebutkan kepada Mobile World Live bahwa, di dalam pemahamannya harga adalah masalah besar.

“Nokia tidak dapat menggapai titik harga yang diinginkan oleh vendor China, dan saya pasti berpikir itu tentang bersama dengan Masalah komponen Q3 yang dimiliki Nokia,” kata Schoolar.

Adapun Ericsson, Schoolar menambahkan, menyadari mempunyai kemampuan untuk beradu terhadap harga di China tanpa mengakibatkan kerusakan margin (berdasarkan rilis keuangannya).

Meski sedang mengalami paceklik, Schoolar yakin Nokia secara total tidak bakal muncul dari China karena tawarkan elemen jaringan lain, layaknya optik, IP, core dan perangkat lunak.

“Saya berasumsi Nokia terhitung mempunyai lebih dari satu pekerjaan LTE yang sedang dilakukan. Tapi 5G bakal sulit dan itu adalah area pertumbuhan era depan untuk ponsel. Saya tidak menyadari seutuhnya perjanjian, tapi bisa saja Nokia dapat lagi dan menawar sel kecil 5G dan mmWave,” katanya.

Pertanyaannya, mengingat potongan kecil proyek yang bisa saja bakal diberikan oleh vendor non-China, adalah berapa banyak upaya di era depan yang idamkan dicurahkan untuk penawaran untuk tender Cina yang masif dan kompleks, yang terhitung membutuhkan negosiasi yang memakan waktu dan juga banyak pengujian.

Menambah kompleksitas, bisnis Nokia di China ditunaikan melalui Nokia Shanghai Bell, perusahaan patungan yang dibikin sesudah akuisisi Alcatel-Lucent. Nokia dan China Huaxin yang dimiliki pemerintah masing-masing mengendalikan 50 % saham perusahaan.

Pada 2019, perusahaan patungan itu hanya menggapai pendapatan € 2 miliar, anjlok hingga 20 % dari th. sebelumnya. Alhasil, Nokia Shanghai Bell membukukan kerugian € 47 juta.
Senasib bersama dengan Nokia Networks, HMD Global yang memegang lisensi ponsel Nokia, waktu ini terhitung sedang mengalami masa-masa sulit.

Seperti diketahui, pasar smartphone global mengalami penurunan terburuk di dalam sejarah. Pada kuartal pertama 2020, pengiriman smartphone global alami penurunan hingga 13 % menjadi 295 juta unit.

China mengalami penurunan pengiriman terbesar, menggapai 27 % tahun-ke-tahun (YoY). Wabah coronavirus memaksa negara itu terkunci selama lebih dari satu bulan sebelum saat negara-negara lain di dunia, melaksanakan kebijakan yang sama.

Menurut Counterpoint, HMD Global hanya dapat mengirimkan 10,3 juta ponsel Nokia selama kuartal pertama 2020. Laporan itu tunjukkan penurunan hingga 44 % dibandingkan bersama dengan Q1 2019, nyaris tiga kali lipat penurunan pasar secara keseluruhan. Itu berarti pandemi virus coronavirus. bukan cuma satu alasan di balik menurunnya angka penjualan Nokia.

Di pasar ponsel cerdas, Nokia adalah vendor terbesar ke-13 terhadap Q1 2020 bersama dengan pangsa pasar lebih kurang 1 persen. Meski pasar menjadi banyak beralih ke smartphone, Nokia masih pemain besar di pasar ponsel fitur. Perusahaan ini adalah merek terbesar kedua di pasar ponsel fitur bersama dengan 13 persen, hanya di belakang iTEL (27 persen). Sayangnya, penjualan ponsel fitur Nokia terhitung mengalami penurunan 34 persen. Tercatat HMD Global hanya mengirim 8,6 juta unit terhadap Q1 2020.

Angka itu tunjukkan di dalam tiga kuartal terakhir, penjualan smartphone Nokia turun setidaknya 1 juta unit. Ini terhitung merupakan kuartal terburuk sejak Q2 2017, saat 1,4 juta unit dikirimkan.

Melongok ke belakang, HMD Global membangkitkan lagi merek Nokia lebih dari tiga th. yang selanjutnya dan mengalami keberhasilan instan, lebih-lebih di pasar Eropa. Tercatat penjualan naik dari hanya 100.000 unit di Q1 2017 menjadi lebih dari 4,4 juta di Q4 2017 dan lantas senantiasa lumayan stabil selama 2018.

Periode 2017 – 2018 sebenarnya th. terbaik Nokia. Vendor dapat menjajakan lebih kurang 70 juta ponsel. Jumlah selanjutnya termasuk penjualan smartphone dan feature phone.

Ponsel paling laris HMD berada di rentang harga 300 hingga 400 euro atau berkisar Rp 4,9 juta hingga Rp 6,6 juta (asumsi kurs Rp 16.550 per 1 euro). Sejauh ini, Nokia 6.1 merupakan ponsel terlaris HMD di pasar global.

Namun sejak 2019, laju Nokia menjadi tertahan. Vendor tak dapat menggoyang dominasi pemain mapan layaknya Samsung, Huawei, dan Apple. Di sisi lain, Xiaomi dan merek-merek di bawah BBK Group (Oppo, Vivo dan Realme) terus mendapatkan momentum pasar. Oppo bahkan dapat mengkudeta Samsung sebagai market leader di Indonesia. Begitu pun di pasar India, Vivo kini berada posisi kedua di bawah Xiaomi di India, menggusur Samsung yang anjlok ke posisi tiga.

Alih-alih dapat mengejar vendor-vendor tersebut, penjualan Nokia terus turun di tiap-tiap kuartal jikalau Q2 2019. Dan data terakhir yang diungkapkan oleh Counterpoint, tunjukkan kinerja Nokia selama 2020 dapat lebih tidak baik lagi.

Dalam analisanya Counterpoint menyebutkan bahwa, anjloknya penjualan ponsel Nokia, tunjukkan animo yang tidak baik dari peluncuran smartphone terbaru.
Untuk menolong lagi penjualan, saat ini perusahaan bertaruh besar-besaran terhadap Nokia 8.3 5G. Sayangnya bersama dengan permintaan yang masih rendah di Eropa, kuartal kedua dapat berakhir bencana bagi smartphone Nokia. Apalagi umumnya negara-negara Eropa menunda peluncuran 5G, tunggu redanya wabah virus corona.

Harus diakui bahwa persepsi merek yang masih terbilang kuat, membawa dampak lebih dari satu kastemer masih setia bersama dengan Nokia. Permasalahannya, nyaris 80 % kastemer HMD dilaporkan berusia 35 th. ke atas. Mereka adalah orang-orang yang mengingat Nokia di era jayanya.

Peluncuran beragam smartphone baru Nokia selama tiga th. terakhir, terbukti belum seutuhnya dapat menggaet kastemer muda di bawah usia 20 th. yang merupakan obyek utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *