Pasar Produk Teknologi Informasi Jatim Diperkirakan Turun

 

Pengusaha teknologi informasi (TI) memperkirakan kinerja pasar produk teknologi di Jawa Timur sampai akhir tahun ini bakal anjlok sampai 30- 40 persen karena imbas dari pandemi Covid-19.

Ketua Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Aptikas) Jatim, Okky Tri Hutomo mengatakan sebenarnya setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dihentikan, tren pembelian produk IT mulai bergeliat. Namun kondisi itu akhirnya kembali turun semenjak Jakarta memberlakukan PSSB kembali.

“Jadi jalur distribusi kan ada di Jakarta, dan distributor prisipal juga banyak di sana, apalagi impor dari China dan Taiwan agak sedikit rumit dan mereka melihat Indonesia masih relatif berbahaya sehingga impor barang IT agak terganggu,” jelasnya, Senin (28/9/2020).

Dia mengatakan jika dibandingkan kondisi normal tahun lalu, tren penjualan produk IT seperti perangkat komputer, laptop, dan smartphone mengalami peningkatan rerata mencapai 15 persen.

“Sekarang ini minus sampai 30 -40 persen. Penurunan cukup tajam karena kalau digambarkan satu distributor biasanya mampu mengeluarkan 10.000 unit produk. Nah saat ini tidak sampai, paling sekitar 2.000 unit, itupun sudah bagus untuk sekelas distributor,” katanya.

Selain masalah jalur distribusi, kondisi daya beli masyarakat juga melemah menurut data para reseller/ toko gadget ritel. Jika dulu masyarakat membeli gadget karena ingin ganti teknologi yang baru, kini konsumen membeli perangkat karena alasan gadgetnya rusak, atau hilang.

“Jadi kalaupun ada penjualan, kebanyakan karena memang gadgetnya si konsumen itu sedang rusak, atau hilang. Jadi beli karena terpaksa butuh,” imbuhnya.

Okky menambahkan, meski kini sudah banyak platfrom toko online tetapi ternyata belum mampu mengerek penjualan produk IT. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh konsumen yang sangat membutuhkan sentuhan langsung terhadap produk yang akan dibelinya.

“IT beli online masih banyak yang belum yakin, karena produk mahal,takut tidak cocok. Makanya lebih senang datang ke toko untuk merasakan, misal beli iphone 11, secara psikologi tidak memiliki efek signifikan, karena produk high tech harus dicoba dan dirasakan langsung,” imbuhnya.

Disamping itu, tambah Okky, kebutuhan produk IT yang seharusnya tinggi terutama untuk kegiatan belajar di rumah ternyata juga tidak bisa diharapkan, pasalnya konsumen seperti di luar Surabaya kesulitan untuk datang ke Surabaya untuk membeli gadget.

“Kadang beli online, barangnya tidak ada. Kalau konsumen luar Surabaya mau berkunjung ke toko, ada imbauan kena rapid test sehingga konsumen pun enggan padahal Surabaya adalah barometer IT di Indonesia timur,” katanya.

Okky mengungkapkan, akibat berbagai kondisi tersebut kini banyak gerai IT di Jatim yang memilih tutup setidaknya mencapai 20 persen. Sebagian besar juga memilih banting setir dengan berjualan alat kesehatan, dan makanan mengingat adanya penurunan omzet, dan biaya sewa gerai yang tidak bisa dipenuhi.

“Tapi kami mulai optimistis dengan tahun ajaran baru karena siswa akan masuk, tidak daring lagi tapi pasti butuh IT untuk menunjang aktivitas pendidikan. Sehingga kami mengandalkan proyek pengadaan IT oleh pemerintah yang kontribusinya selama ini 70 persen,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *